
MATARAM, Fokus NTB – Tim Pengabdian Studi Independen Brucea javanica dari Program Studi Farmasi Universitas Mataram (Unram) sukses menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat di Lingkungan Bangsal, Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, Sabtu (27/12). Kegiatan ini menyoroti pemanfaatan biji buah wali (Brucea javanica) sebagai alternatif alami penurun tekanan darah.
Program ini dilatarbelakangi oleh tingginya prevalensi kasus hipertensi di Nusa Tenggara Barat (NTB). Di sisi lain, potensi sumber daya alam lokal belum dimanfaatkan secara maksimal. Buah wali, yang selama ini tumbuh liar di sekitar permukiman dan lahan kering warga, kerap dipandang sebelah mata dan dianggap sekadar tanaman biasa tanpa nilai ekonomi.
Melalui kegiatan ini, Tim Pengabdian Unram berupaya mengubah persepsi masyarakat tersebut.
“Biji buah wali diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berperan membantu menurunkan tekanan darah serta mendukung kesehatan sistem kardiovaskular apabila dimanfaatkan secara tepat dan aman,” ujar perwakilan tim pengabdian dalam keterangannya.
Kegiatan dikemas melalui metode ceramah interaktif dan diskusi partisipatif. Materi penyuluhan mencakup pengenalan bahaya tekanan darah tinggi, morfologi biji buah wali, hingga tata cara konsumsinya sebagai obat herbal.
Antusiasme warga terlihat tinggi selama sesi diskusi. Banyak peserta yang aktif menanyakan keamanan penggunaan, takaran dosis tradisional, hingga peluang tanaman ini dikembangkan menjadi produk bernilai jual.

Guna memperkuat pemahaman warga, tim juga melakukan demonstrasi pengolahan pascapanen secara langsung. Warga diajarkan proses pengeringan bahan, teknik penyimpanan yang benar, hingga cara penyajian biji buah wali yang higienis. Demonstrasi ini bertujuan membuktikan bahwa pengolahan obat herbal ini dapat dilakukan secara mandiri, mudah, dan terjangkau di rumah tangga.
Tim Pengabdian berharap, pasca-kegiatan ini masyarakat Lingkungan Bangsal semakin sadar akan potensi apotek hidup di sekitar mereka. Ke depan, biji buah wali diharapkan tidak hanya menjadi solusi kesehatan keluarga, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi komoditas herbal unggulan yang mampu mendongkrak pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.


