Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer

IPA BAHYA
Alumni Universitas Gadjah Mada.
Doro Londa di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, sering dipuji sebagai anomali ekologis: sebuah kawasan perbukitan yang masih hijau, dipenuhi pepohonan besar, dan relatif bebas dari alih fungsi lahan. Namun pujian ini kerap berhenti pada kekaguman visual, tanpa keberanian mengkritik mengapa kelestarian itu bisa terjadi dan apa yang sesungguhnya dipertaruhkan di baliknya. Fakta bahwa Doro Londa tetap lestari bukan terutama karena kesadaran ekologis modern, melainkan karena ketakutan kolektif terhadap mitos hantu dan jin, justru membuka ironi besar dalam cara manusia modern memahami alam.
Mitos tentang jin dan makhluk halus yang mendiami Doro Londa sering dicemooh sebagai takhayul. Namun jika dilihat secara kritis, mitos ini justru berfungsi lebih efektif daripada berbagai kebijakan lingkungan formal. Ketika negara gagal menghadirkan perlindungan ekologis yang tegas, mitos mengambil alih peran tersebut. Dalam konteks ini, hantu dan jin bukan sekadar entitas supranatural, melainkan alat kontrol sosial yang mengekang keserakahan manusia. Ketakutan menjadi mekanisme disipliner yang menjaga hutan tetap utuh. Ini memperlihatkan paradoks: rasionalitas modern yang mengklaim diri lebih maju justru sering menjadi aktor utama kerusakan lingkungan.
Melalui lensa ekologi politik (political ecology), kelestarian Doro Londa dapat dibaca sebagai hasil absennya kepentingan ekonomi berskala besar, bukan karena komitmen moral kolektif terhadap alam. Selama Doro Londa belum sepenuhnya “bernilai” secara kapital—misalnya untuk tambang, properti, atau infrastruktur—ia dibiarkan hidup di bawah selubung mitos. Namun sejarah di banyak tempat menunjukkan bahwa ketika nilai ekonomi muncul, mitos akan segera didelegitimasi. Jin dianggap khayalan, hantu dianggap kebodohan, dan bulldozer pun masuk tanpa rasa bersalah. Dengan demikian, mitos hanya bertahan selama ia tidak mengganggu kepentingan kuasa dan modal.
Dari sudut antropologi kritis, mitos Doro Londa berfungsi sebagai bentuk perlawanan kultural yang tidak disadari. Ia menciptakan batas simbolik terhadap eksploitasi, terutama oleh masyarakat lokal sendiri. Namun batas ini rapuh, karena tidak dilindungi oleh sistem hukum yang kuat. Ketika negara dan pasar hadir dengan bahasa “pembangunan”, mitos kehilangan legitimasi. Di sinilah letak tragedinya: pengetahuan lokal yang selama ini terbukti menjaga ekologi justru disingkirkan oleh narasi kemajuan yang eksploitatif.
Pendekatan rasionalisasi Max Weber juga relevan untuk membaca fenomena ini. Modernitas berupaya “menyihir ulang” dunia dengan logika kalkulasi dan efisiensi, menyingkirkan yang dianggap irasional. Tetapi dalam prosesnya, dunia menjadi “tercerabut dari makna”. Doro Londa, yang sebelumnya dilihat sebagai ruang hidup penuh makna spiritual, direduksi menjadi objek ekonomi. Hasilnya bukan kesejahteraan ekologis, melainkan kerusakan sistematis. Ironisnya, apa yang disebut irasional—ketakutan terhadap hantu—justru lebih rasional secara ekologis dibanding logika pembangunan modern.
Lebih tajam lagi, mitos Doro Londa juga mengungkap kemunafikan diskursus lingkungan kontemporer. Kampanye pelestarian sering datang dari luar, berbalut bahasa ilmiah dan proyek donor, tetapi mengabaikan sistem kepercayaan lokal yang telah bekerja selama puluhan bahkan ratusan tahun. Ketika hutan rusak, masyarakat lokal disalahkan; ketika hutan lestari, kontribusi mereka tidak diakui karena dianggap berbasis takhayul.
Doro Londa pada akhirnya menjadi cermin kegagalan manusia modern dalam merawat alam tanpa rasa takut. Ia bertahan bukan karena cinta ekologis, melainkan karena horor kultural. Pertanyaannya bukan apakah mitos itu benar atau salah, melainkan: mengapa manusia membutuhkan ketakutan terhadap makhluk gaib untuk menahan hasrat merusaknya sendiri? Selama pertanyaan ini tidak dijawab secara jujur, maka Doro Londa hanyalah jeda sementara sebelum nalar eksploitatif kembali menang—dan hantu pun akan terusir, bersama pepohonan yang selama ini mereka “jaga”.



