Berkisah Tentang Mantan

Oleh Suradin
“Kita menikah saja dulu sebelum abang kembali melanjutkan studi” ucapnya setengah membujuk.
“Saya yakin abang tidak akan menikah denganku, jika sekembalinya ke Dompu” lanjutnya.
Mendengar itu, sejenak saya terdiam. Saya berusaha tenang sembari mencari jawaban yang tepat untuk meyakinkannya. Sementara dia menunggu jawaban. Setelah beberapa menit terdiam, saya mulai perlahan menjelaskan, meyakinkannya bahwa keputusan untuk melanjutkan studi merupakan keputusan yang tepat. Dan peluang itu sudah terhampar jelas di depan mata.
Melanjutkan studi tidak lantas hubungan kami harus kandas di tengah jalan. Dan jika dipaksakan untuk menikah terlebih dahulu, saya tidak punya cukup modal untuk melamarnya. Jika pilihan itu diambil maka saya harus merelakan peluang untuk kembali menimba ilmu di perguruan tinggi. Sore di taman kodim itu, tempat dimana kami bertemu, saya harus mengambil satu keputusan penting antara memilih menikah atau melanjutkan studi ke tanah Daeng.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya akhirnya memutuskan berpisah dengannya, demi menjemput masa depan yang saya impikan. Mendengar itu, ia tampak kecewa. Ia bahkan menuding saya tidak mencintainya. Dia merasa dikhianati. Terlihat jelas di wajahnya yang sebening kaca, seolah menyesal menerima cinta saya di hidupnya. Ia bahkan melontarkan pernyataan saya lelaki yang tidak tahu diuntung mengenal perempuan cantik seperti dirinya.
Memang sulit untuk tidak mengakui bahwa ia perempuan yang berparas cantik. Wajahnya yang seputih salju, membuat lelaki manapun akan berdecak kagum akan pesonannya. Ia serupa artis Marcella Semon dengan hijab yang mengesankan. Saya tahu banyak lelaki yang ingin merebut perhatiannya. Meski begitu tak banyak lelaki yang mampu menaklukan hatinya.
Dan saya beruntung bisa mengenalnya lebih dalam, meski hubungan kami tak seberapa lama. Sebuah pilihan membuat hubungan kami harus pupus di tengah jalan. Meski tak banyak kenangan yang terlukis di kanvas perjalanan hidup kami, selama menjalin kasih. Tapi itu terasa cukup untuk mengenang serpihan kisah cinta yang pernah kami jahit kala bersama. Dan akhirnya kami harus merelakan kebersamaan ini karena satu pilihan yang tak sejalan.
Saya mengenalnya ketika menjadi staf pengajar di kampus biru di kota Kabupaten. Dia mahasiswi saya di satu kelas. Karena sering bertemu dan sesekali duduk bareng dengan teman kelasnya, akhirnya kami mulai akrab. Mulai membangun komunikasi. Dan tidak jarang kami mendiskusikan banyak hal, yang kadang topiknya di luar dunia perkuliahan. Dan tiba di suatu hari yang tak direncanakan, saya memberanikan diri mengungkapkan perasaan saya padanya. Gayung bersambut, ia menerima cinta lelaki kampung seperti saya.
Perjalanan cinta kami tidak lah seromantis film Korea. Tak ada drama, apa lagi sampai ada tangis lalu saya memeluknya untuk menguatkan hatinya. Saya berusaha untuk profesional. Ketika di kampus, ia sama seperti yang lain, mahasiswa saya. Tidak ada keistimewaan. Jika tidak hadir, apa lagi tak sempat membuat tugas, maka nilainya pun tidak akan bagus. Ia pun tak protes. Kami sama-sama tidak memanfaatkan hubungan ini demi mencederai profesionalitas. Semua berjalan natural, sebagaimana umumnya orang-orang. Bahkan tidak ada janji yang muluk-muluk untuk kami gapai di kemudian hari.
Jika berkesempatan kami bertemu, itu pun kalau saya ada jam mengajar di kampus, dan dia pun ada jadwal kuliah di hari yang sama. Saat itu lah kami bisa berbagi kabar, dan bercerita dengan ragam topik. Jika ingin, kami pun sesekali duduk di taman kota. Ia tampak mengerti profesi saya sebagai pengajar di dua tempat, kampus dan sekolah. Sehingga saya tidak jarang bolak balik dari kampung ke Kota. Dan bila lelah mendera, saya pun kadang menginap di rumah om saya di kota.
Itu saya lakoni kurang lebih dua tahun. Saya menempa diri agar bisa menjadi pribadi yang siap menghadapi segala medan. Pengalaman selama di tanah rantau telah mengajarkan banyak hal. Kemandirian bukan lagi sekedar teori, tetapi benar-benar sudah dirasakan. Sehingga ketika memutuskan mengajar di dua tempat dengan jarak yang jauh, bagi saya itu tidak menjadi soal. Sampai akhirnya saya mengenal dan melabuhkan hati pada seorang perempuan yang nota bene adalah mahasiswa saya sendiri.
Meski pun ada pihak yang melarang hubungan kami, karena status dosen dan mahasiswa, tapi cinta lah yang menyatukan perasaan kami. Menyatukan dua sejoli yang mencoba menjahit perbedaan meski pun bukan untuk menciptakan kesatuan, tapi untuk saling memahami. Memahami peran masing-masing, meski pun harus berakhir diujung keputusan.
*
Usai menimba ilmu di tanah Daeng, Kota Makassar, saya pun memilih kembali ke kampung halaman. Tapi kali ini bukan sebagai dosen, tapi menjadi warga biasa. Saya memilih menantang hari bukan lagi sebagai pengajar yang saban hari menghamparkan materi di depan kelas. Sejurus itu sibuk dengan memeriksa tugas-tugas. Memberi nilai, lalu mengumumkan siapa mahasiswa yang memiliki nilai tertinggi. Meski sempat melalang buana di pulau seribu mesjid, saya pun memantapkan diri untuk dekat dengan orang tua di kampung. Ketika itu saya berpikir, tak ada guna saya sukses di tanah rantau kalau tidak bisa memberi segenggam kebahagiaan kepada orang yang melahirkan saya ke dunia.
Selain itu, saya juga menanggalkan gelar magister yang pernah saya raih di kampus phinisi, pasca sarjana Univeristas Negeri Makassar. Saya ingin lebih bebas melangkah kemanapun yang saya mau tanpa embel-embel gelar. Karena yang terpenting saya bisa survive di belantara kehidupan ini. Dan sampai pada suatu hari seseorang iseng bertanya tentang status saya.
“Apakah bung Raden’t pernah punya pacar?
Pertanyaan itu seketika membuka memori saya tentang seorang perempuan yang pernah singgah di palung hati. Tentang perempuan yang pernah membangun impian bersama. Tentang dia yang kini hilang bersama kenangan yang pernah tercipta. Tentang perempuan yang telah menjadi mantan. Dia yang pernah duduk bersama di satu taman lalu membujuk saya untuk segera menikah.
Tampak terasa sulit melupakan kenangan bersamanya. Sejak saat itu saya tak pernah memberi ruang kepada perempuan lain untuk berlabuh di hati ini. Saya merawat kenangan itu bukan untuk meminta ia kembali dalam pelukan. Bukan pula menginginkan ia kembali seperti dulu. Menjahit kembali harapan yang pernah pupus karena terhapus ego.
Jika pun kelak bertemu dengannya, saya hanya ingin mengucapkan sesuatu. Terima kasih. Ya, terima kasih. Sebuah ucapan sederhana karena ia pernah berada dalam perjalanan hidup saya, meskipun kenangan bersamanya telah menjadi prasasti dalam labirin memori. Terima kasih bisa mengenalnya, walau pun tidak bisa sampai bersanding hingga ke pelaminan. Terima kasih telah memberikan ruang, hingga saya bisa mengenalnya. Terima kasih kita pernah saling kenal mengenal, dan mengkahiri kebersamaan dengan penuh duka lara.
Maafkan semua yang khilaf. Biarkan ia larung bersama lajunya waktu. Biarkan ini menjadi kenangan yang tak terlupakan. Jika luka itu belum lah kering, bisakah kita saling berucap untuk saling memaafkan. Kalau lah terlalu sulit, mungkin kita bisa sedikit memberi waktu pada logika, agar bisa menjadi kenangan terindah dalam hidup kita.
Jika waktu itu datang, bisakah tanganmu saya pegang meski sejenak, lalu berbisik lirih, saya masih menyimpan rapi kenangan bersamamu sayang. Ini saat yang tepat untuk melupakannmu, dan mengubur semua kenangan yang pernah tercipta di antara kita. Biarkan ia hilang bersama senja…..



