Mbolo Weki: Tradisi Bermusyawarah dalam Kehidupan Sosial Budaya Bima

oleh: Astuti, mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab UIN Alauddin Makassar – Instagram: utyyhusnia
Di tanah Bima, tanah tempat suku Mbojo tumbuh dan berakar di bagian timur pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Di tengah dinamika kehidupan, masyarakat Bima sejatinya memiliki warisan budaya dan sarat makna. Salah satunya adalah Mbolo Weki, sebuah tradisi bermusyawarah yang telah lama menjadi bagaian dari nadi kehidupan sosial masyarakat Bima. Musyawarah bukanlah sesuatu yang asing. Musyawarah telah menjadi bagian mendasar dari cara hidup sosial sejak berabad-abad lalu. Secara sederhana, Mbolo berarti berkumpul atau bermusyawarah, sementara weki berberati kita bersama. Tradisi ini bukan hanya sekedar pertemuan yang di hadiri banyak orang, melainkan ruang bersama untuk menyatukan pikiran, perasaaan, dan tanggung jawab sosial. Dari kesadaran inilah Mbolo Weki hadir sebagai ruang untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi dan bersama, antara suara orang tua dan pandangan generasi muda, serta antara adat yang diwariskan dan kenyataan hidup yang terus berubah.
Dalam kehidupan masyarakat Bima. Mbolo Weki kerap dijumpai dalam berbagai peristiwa sosial, seperti persiapan pernikahan, acara adat, hingga penyelesaian persoalan keluarga dan lingkungan. Melalui Mbolo weki, setiap orang diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, dan keputusan diambil berdasarkan mufakat. Dari sinilah nilai kebersamaan dan solidaritas sosial terbangun secara alami, tanpa paksaan dan tanpa dominasi.
Lebih dari sekedar tradisi, Mbolo weki sesungguhnya menjadi ruang belajar sosial bagi masyarakat. Tradisi ini mengajarkan pentingnya tanggung jawab kolektif, sikap saling menghargai, serta kemampuan mendengarkan pendapat orang lain. Dalam ruang Mbolo Weki, masyarakat belajar bahwa perbedaan pendapat bukanlah sumber perpecahan, melainkan jalan menuju keputusan yang lebih bijak. Nilai-nilai ini menjadikan Mbolo Weki sebagai bentuk demokrasi lokal yang hidup membumi dalam budaya Bima. Namun, realitas hari ini menunjukan bahwa keberadaan Mbolo Weki menghadapi berbagai tantangan . Perubahan gaya hidup, kesibukan ekonomi, serta pengaruh teknologi perlahan menggeser ruang-ruang musyawarah tradisional. Tidak sedikit generasi muda yang mulai merasa asing dengan Mbolo Weki, bahkan menganggapnya sebagai tradisi lama yang tua. Musyawarah sering kali tergantikan oleh keputusan sepihak atau sekedar percakapan singkat di ruang digital. Jika kondisi ini trus dibiarkan, Mbolo Weki berpotensi kehilangan makna sosial. Padahal, di tengah meningkatnya konflik renggangnya hubungan sosial, nilai-nilai kebersamaan yang terkandung dalam Mbolo Weki justru semakin dibutuhkan. Musyawarah, kebersamaan, dan rasa tanggung jawab sosial adalah fondasi penting dalam menjaga harmoni masyarakat. Oleh karena itu, menjaga Mbolo Weki tidak hanya tugas para tokoh adat, tetapi juga tanggung jawab generasi muda yang akan melanjutkan kehidupan sosial di tanah ini. Tradisi ini perlu dipahami kembali agar tetap punya tempat dalam kehidupan hari ini, tanpa melepaskan nilai yang sejak lama menjdi pijakannya. Dengan begitu, Mbolo Weki tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi tetap hidup sebagai praktik sosial yang membentuk karakter masyarakat Bima.
Pada akhirnya, Mbolo Weki, merupakan cerminan cara masyarakat Bima memahami arti hidup bersama. Selama tradisi ini masih dijalankan dengan kesadaran dan kesungguhan, tradisi ini akan trus menjadi penopang dalam menjaga keharmonisan sosial sekaligus memperkuat jati diri budaya Bima di tengah perubahan zaman yang tidak pernah berhenti.
REFERENSI:
Bilqalam, K. (2024). Tradisi Mbolo Weki di Kacamatan Bolo Kabupaten Bima dalam Perspektif Hadis (Tesis). UIN Alauddin Makassar, Makassar.



