
Sumbawa, Fokus NTB – Di sudut sederhana Uma Beringin Boxing Camp (UBBC), suara sarung tinju yang beradu bukan sekadar bunyi latihan fisik. Di balik setiap gerakan dan aba-aba, ada tiga sosok pelatih yang bekerja tanpa pamrih, menjadikan sasana ini bukan hanya tempat berlatih, tetapi ruang pembinaan karakter bagi anak-anak.
UBBC dikenal sebagai tempat latihan tinju yang terbuka untuk anak-anak tanpa memungut biaya. Namun di balik kebijakan itu, ada komitmen besar yang dijaga konsisten oleh para pelatihnya: Agus Rolian, Ruslin Bambang, S.AP, dan A. Wahab.
Mengarahkan Energi, Bukan Mengubah Anak.
Agus Rolian, Selasa (17/2) memandang setiap anak sebagai pribadi yang sudah memiliki potensi. Baginya, tugas pelatih bukan mengubah karakter anak, melainkan mengarahkan energi mereka agar tumbuh menjadi kekuatan yang positif.
“Anak-anak tidak perlu diubah. Mereka hanya perlu diarahkan agar tahu ke mana energi mereka harus disalurkan,” ujarnya.
Dalam setiap sesi latihan, Agus menekankan struktur dan disiplin. Pemanasan dilakukan tertib, teknik dilatih berulang dengan sabar, dan evaluasi selalu diberikan. Ia percaya konsistensi adalah fondasi pembentukan mental.
Menurutnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari prestasi di ring. Ketika anak menjadi lebih disiplin di sekolah dan lebih percaya diri berbicara, itu sudah menjadi kemenangan tersendiri.
Olahraga sebagai Tanggung Jawab Sosial
Berbeda sudut pandang datang dari Ruslin Bambang, S.AP. Dengan latar belakang administrasi publik, ia melihat pembinaan olahraga sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.
Ia menilai tidak semua anak memiliki akses yang sama terhadap pembinaan berkualitas. Karena itu, UBBC hadir tanpa biaya, agar kesempatan tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi.
“Jika ruang pembinaan hanya bisa diakses oleh yang mampu, maka banyak potensi akan hilang sebelum sempat berkembang,” tegas Ruslin.
Baginya, tinju bukan hanya latihan fisik. Yang lebih penting adalah pembentukan mental: mengelola emosi, menghargai teman, serta menerima menang dan kalah dengan sikap sportif.
Mendidik Lewat Keteladanan
Sementara itu, A. Wahab dikenal sebagai sosok tenang namun tegas. Ia percaya bahwa anak belajar bukan hanya dari instruksi, tetapi dari contoh yang mereka lihat setiap hari.
Datang tepat waktu, berbicara terukur, dan memperlakukan setiap anak dengan hormat menjadi prinsip yang ia pegang.
“Anak-anak meniru apa yang mereka lihat. Maka pelatih harus lebih dulu disiplin,” katanya.
Ia sering mengingatkan bahwa tinju mengajarkan kesabaran dan pengendalian diri. Tidak semua emosi perlu diluapkan, tidak semua tantangan harus dihadapi dengan amarah.
Lebih dari Sekadar Sasana
Tanpa dukungan biaya operasional besar, tanpa pungutan dari peserta, UBBC berjalan atas dasar niat tulus para pelatihnya. Mereka hadir bukan karena kewajiban finansial, tetapi karena keyakinan bahwa anak-anak membutuhkan ruang aman untuk tumbuh.
Di tengah keterbatasan, UBBC membuktikan bahwa pembinaan generasi muda tidak selalu dimulai dari fasilitas mewah. Ia bisa dimulai dari komitmen, konsistensi, dan hati yang mau mengabdi.
Di balik setiap pukulan yang terlatih, ada nilai yang sedang dibentuk.
Di balik setiap latihan yang disiplin, ada masa depan yang sedang disiapkan.
UBBC bukan hanya tentang tinju. Ia tentang pengabdian.



