Wakil Menteri PKP Bersama KORASA Gelar Trauma Healing untuk Korban Kebakaran Dusun Pok

Sumbawa, Fokus NTB – Komunitas Remaja Sehat Sumbawa (KORASA) menggelar kegiatan trauma healing bagi korban kebakaran di Dusun Pok, Desa Kalimango, Kecamatan Alas, Jumat (03/04). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan psikososial, khususnya bagi anak-anak dan remaja yang terdampak musibah.
Kegiatan tersebut berlangsung hangat dan penuh keakraban. Para relawan KORASA menghadirkan berbagai aktivitas seperti permainan edukatif, motivasi, hingga pendampingan emosional guna membantu korban, terutama anak-anak, mengurangi rasa trauma pascakebakaran.
Pembina KORASA, Kartika Sari, Amd. Keb., menyampaikan bahwa trauma healing merupakan langkah penting yang tidak boleh diabaikan dalam penanganan bencana.
“Selain bantuan fisik, pemulihan mental dan emosional korban, khususnya anak-anak, harus menjadi perhatian utama. Mereka butuh ruang aman untuk kembali merasa tenang dan percaya diri,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Harian KORASA, Juniarina Safitri, menegaskan bahwa kehadiran KORASA bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk komitmen nyata dalam mendampingi masyarakat.
“Kami ingin hadir langsung di tengah masyarakat, memberikan energi positif, dan memastikan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi situasi ini,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga mendapat perhatian dari Wakil Menteri Perumahan Republik Indonesia, H. Fahri Hamzah, yang turut memberikan pandangan terkait arah pemulihan ke depan.
“Pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya membangun kembali rumah, tetapi juga membangun kembali semangat dan harapan masyarakat. Anak-anak adalah masa depan, dan mereka harus dipastikan pulih secara mental,” tegasnya.
Diketahui, kebakaran yang melanda Dusun Pok beberapa waktu lalu menyebabkan sejumlah rumah warga hangus terbakar dan berdampak pada kondisi psikologis korban, terutama anak-anak.
Melalui kegiatan ini, KORASA berharap dapat menjadi bagian dari proses pemulihan yang lebih luas, sekaligus menggerakkan semangat gotong royong di tengah masyarakat.
Di tengah abu yang masih menyisakan luka, tawa anak-anak mulai kembali terdengar—pelan, tapi pasti. Sebab kadang, yang dibutuhkan bukan hanya bantuan, tapi juga pelukan dalam bentuk kehadiran.




