Prabowo Gaungkan “Gentengisasi” di Rakornas 2026, Pengrajin Lokal NTB Taruh Harapan Besar

Lombok Tengah, Fokus NTB – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, meluncurkan gagasan baru bertajuk “Gentengisasi” dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026. Program ini dirancang untuk menata ulang wajah permukiman di Indonesia agar lebih estetis sekaligus meningkatkan kenyamanan lingkungan.
Dalam pidatonya di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Senin (2/2/2026), Presiden menekankan pentingnya penggunaan atap genteng yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki fungsi termal yang baik untuk menyejukkan suhu di dalam rumah. Instruksi ini ditujukan kepada seluruh jajaran pemerintah, mulai dari tingkat provinsi hingga pemerintahan desa.
Gagasan Kepala Negara ini mendapat sambutan positif dari berbagai elemen masyarakat, terutama para pelaku industri genteng lokal. Muhamad Safari Al-bunduduki, seorang Aktivis Muda asal Nusa Tenggara Barat (NTB), menilai program ini sebagai peluang emas bagi kebangkitan ekonomi kerakyatan di daerahnya.
Safari menyoroti potensi besar di kampung halamannya, Dusun Embung Duduk, Desa Labula, Lombok Tengah. Wilayah ini dikenal sebagai sentra produksi genteng yang telah beroperasi sejak tahun 1960-an dan menjadi tulang punggung perekonomian warga setempat.
“Gentengisasi ini sejalan dengan kebutuhan dan potensi masyarakat kami. Selama ini, genteng lokal adalah napas ekonomi warga Embung Duduk. Kami berharap gagasan Bapak Presiden ini diterjemahkan dengan baik oleh Pemerintah Daerah (Pemda) untuk memprioritaskan penggunaan produk lokal,” ujar Safari (3/2/2026).
Meski memiliki sejarah panjang dalam produksi genteng, Safari menyayangkan kurangnya atensi dari pemerintah daerah setempat terhadap keberlangsungan industri ini. Menurutnya, serbuan material atap modern non-genteng dan minimnya proteksi terhadap produk lokal membuat pengrajin kesulitan berkembang.
“Sangat miris melihat produk lokal yang berkualitas justru tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat. Kami mendesak adanya dukungan nyata, baik dalam bentuk regulasi penggunaan genteng lokal pada proyek pemerintah maupun bantuan peningkatan produksi,” tegasnya.
Program Gentengisasi diharapkan memberikan efek ganda (multiplier effect). Di satu sisi, program ini akan mengubah lanskap permukiman Indonesia menjadi lebih indah dan sejuk. Di sisi lain, program ini berpotensi mendongkrak pendapatan asli daerah dan kesejahteraan pengrajin kecil.
Dengan adanya instruksi dari Presiden, para pengrajin di Lombok Tengah dan seluruh Indonesia kini menaruh harapan besar agar “Gentengisasi” tidak sekadar menjadi jargon, melainkan gerakan nyata yang menghidupkan kembali kejayaan produk lokal dan ekonomi kerakyatan.



