BudayaOpini

Menelusuri Cupak Gurantang di Bali dan Lombok

Arief Rahzen, pekerja budaya

Di panggung yang remang, suara gamelan membelah kesunyian malam. Di Bali, kisah Cupak Gurantang hadir dalam seni pertunjukan rakyat. Di Lombok, kisah itu muncul dalam dentum teater rakyat yang riuh. Lakonnya tetap sama: sebuah drama lampau tentang dua bersaudara yang mewakili spektrum ekstrem kemanusiaan kita. Cupak yang rakus, dan Gurantang yang luhur.

Cupak Gurantang bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ini narasi hibrida, sebuah jembatan imajiner yang menghubungkan kosmologi masyarakat Jawa, Bali dan Sasak dalam satu tarikan napas kebudayaan.

Secara fenomenologis, Cupak dan Gurantang adalah personifikasi dari keseimbangan batin. Cupak, dengan perut buncit dan mata membelalak, ialah manifestasi dari nafsu badani yang tak terpuaskan. Ini representasi dari “Id” dalam psikoanalisis Freud yang menuntut kepuasan instan. Sebaliknya, Gurantang ialah perwujudan estetika dan etika. Gurantang tampan, tenang, dan asketik.

Cerita ini bermula dari perjalanan mereka menyelamatkan seorang putri dari cengkeraman raksasa. Inti sarinya bukan pada kemenangan atas raksasa tersebut. Ini ihwal pengkhianatan Cupak terhadap adiknya. Cupak mencuri kejayaan, memfitnah yang tulus, dan memuaskan rasa laparnya di atas penderitaan orang lain.

Menurut Luh Putu Puspawati dan I Made Suastika dalam The Play of Cupak Gerantang in Wayang Kulit and Traditional Dramas and Values in Balinese and Sasak Society in Lombok  (2021), karakter Cupak jadi pengingat bagi penonton. Peringatan atas perilaku buruk. Kita tertawa melihat kerakusannya, namun dibawah sadar, kita menertawakan diri kita sendiri yang seringkali dikendalikan oleh persoalan perut.

Keberadaan cerita Panji di kedua pulau ini tidak lepas dari sejarah panjang interaksi politik dan kultural. Sejak dahulu, masyarakat Bali dan Lombok telah menciptakan ruang interaksi yang unik. Namun, Cupak Gurantang bukan tentang migrasi budaya. Di Lombok, cerita ini mengalami pribumisasi yang mendalam.

Dalam masyarakat Sasak, Cupak Gurantang sering dipentaskan dalam ritual yang berkaitan dengan siklus pertanian atau hajatan. Mengutip penelitian dari Taufik Mawardi, dkk dalam Cupak Gerantang Traditional Theater: Interpretation of Text Meaning as Effort to Strengthen Character (2021), narasi ini berfungsi sebagai teks moral yang mengingatkan masyarakat tentang bahaya kejahatan dan pentingnya kebaikan.

Menariknya, meskipun struktur ceritanya serupa, estetika pertunjukannya mencerminkan lanskap batin yang berbeda. Di Bali, penekanan seringkali ada pada detail ornamen kostum dan kompleksitas koreografi. Sedangkan di Lombok, kekuatan narasi seringkali muncul dari dialog-dialog spontan yang segar, penuh kritik sosial, dan kedekatan emosional dengan penonton.

Di era kontemporer ini, ketika batas-batas fisik kian kabur oleh layar digital, Cupak Gurantang menemukan relevansi baru. Fenomena hoax, pencitraan palsu di media sosial, dan kerakusan korporasi adalah inkarnasi modern dari sifat Cupak. Cupak berganti rupa. Jika dulu ia mencuri jasa adiknya di lubang sumur, kini ia mencuri perhatian publik melalui narasi-narasi manipulatif di ruang siber.

Meski begitu, di saat yang sama, kita melihat upaya revitalisasi. Para penggerak seni di Bali dan Lombok mulai mengunggah fragmen pertunjukan ini ke YouTube dan TikTok. Ini bukan sekadar digitalisasi, melainkan upaya mempertahankan ruh identitas di tengah arus globalisasi yang menyeragamkan. Cupak Gurantang tetap bertahan karena bicara tentang sesuatu yang universal: pertarungan abadi di dalam jiwa setiap manusia.

Cupak Gurantang memantulkan wajah masyarakat Bali dan Lombok. Wajah kita. Meski dipisahkan oleh sejarah dan keyakinan yang berbeda, tetap berbagi nilai-nilai kemanusiaan yang sama.

Esensi cerita ini bukanlah kemenangan Gurantang yang mutlak, melainkan pengingat bahwa dalam diri setiap orang suci ada potensi menjadi Cupak. Dan dalam setiap kegelapan, selalu ada benih ketulusan Gurantang. Melalui narasi ini, Bali dan Lombok berbagi kearifan tentang bagaimana menjadi manusia yang utuh. Manusia yang mampu menjinakkan perutnya demi mendengarkan suara hatinya. []

Related Articles

Back to top button