Opini

Seberapa Dampak? Membedah Realita Program Merdeka UTS di Desa Labuhan Badas

Oleh : Aprilia
Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa

Sumbawa, Fokus NTB – Kewajiban kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) memaksa mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) untuk turun langsung ke tengah masyarakat. Melalui Program Merdeka (Promer) yang berlangsung sejak 1 April hingga penarikan pada 25 Juni kemarin, kampus gencar membawa misi besar lewat tagline “UTS Berdampak”. Akan tetapi, megahnya jargon itu, bagaimana realitanya ketika para mahasiswa justru ditempatkan di desa yang tidak selaras dengan latar belakang jurusan mereka?  Di Desa Labuhan Badas membedah sisi lain antara tuntutan nilai kuliah dan dampak nyata yang ditinggalkan untuk warga.

Kurikulum program studi tertentu mewajibkan mereka mengambil Promer sebagai satu-satunya pilihan MBKM yang tersedia. Masalah muncul ketika penempatan desa dirasa sama sekali tidak memiliki kesinambungan dengan ilmu yang mereka pelajari di perkuliahan. Labuhan Badas yang sebagain besar masyarakat berprofesi sebagai petani, buruh, dan nelayan, menjadi tantangan besar bagi mahasiswa yang memiliki latar belakang jurusan yang sangat spesifik. Awalnya, mereka mengaku lebih memilih magang industri jika diberikan opsi lain oleh pihak program studi.

Namun, teori itu seketika patah saat para mahasiswa, didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), mulai melebur dan berinteraksi langsung dengan warga setempat. Proses membumi ini justru menjadi daya tarik tersendiri. Mahasiswa mulai menemukan ruang belajar baru yang tidak pernah mereka dapatkan di dalam lingkungan kampus.

Meskipun sempat terkendala ego sektoral jurusan, mahasiswa akhirnya berhasil melihat masalah paling mendesak di Labuhan Badas: urusan sanitasi dan tata kelola wilayah. Sebagai bentuk pembuktian dari jargon “UTS Berdampak”, para mahasiswa berkolaborasi menciptakan alat pembakaran sampah guna mengatasi permasalahan lingkungan desa, sekaligus menyusun peta administrasi Desa Labuhan Badas untuk merapikan data kewilayahan.

Kehadiran infrastruktur mini seperti alat pembakar sampah dan peta desa ini mendapat apresiasi dari masyarakat setempat karena memberikan solusi instan. Kelebihan dari Promer ini sangat nyata dalam melatih kepekaan sosial mahasiswa serta memperluas relasi mereka dengan dunia luar. Demikian, program ini menyisakan catatan penting sebagai bahan evaluasi bersama. Efektivitas Promer di masa depan dinilai akan jauh lebih maksimal jika pihak kampus mampu menyelaraskan keahlian jurusan mahasiswa dengan kebutuhan real masyarakat desa yang dituju.Pada akhirnya, pertanyaan tentang seberapa besar dampak dari Promer UTS di Desa Labuhan Badas telah menemukan jawabannya. Lewat alat pembakaran sampah dan peta administrasi yang kini resmi ditinggalkan untuk warga, dampak nyata itu terbukti ada. Meskipun program ini berawal dari formalitas pemenuhan kurikulum yang sempat memicu keraguan akibat ketidaksesuaian jurusan, proses terjun langsung ke lapangan justru memberikan modal pengetahuan sosial yang berharga bagi mahasiswa. Promer UTS adalah program yang sangat bagus, namun keberlanjutan dampaknya di masa depan akan sangat bergantung pada evaluasi kampus dalam menempatkan mahasiswa secara tepat guna—sesuai dengan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat desa.

Related Articles

Back to top button