Ulasan Buku: Kamu Tak Harus Sempurna Karya Anastasia Satriyo

Oleh Nasywa Alodia Islami
Judul: Kamu Tak Harus Sempurna
Penulis: Anastasia Satriyo, M.Psi., Psi
Penerbit: Yrama Widya, Bandung
Cetakan: 2021
Tebal: 112 Halaman
Banyak di masa saat ini anak-anak, remaja, maupun dewasa, yang mengalami kecemasan, kelelahan mental, rasa takut akan kegagalan, dan tekanan untuk selalu tampil sempurna. Buku Kamu Tak Harus Sempurna karya Anastasia Satriyo, M.Psi., Psi. memberikan pandangan yang sangat dekat dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita sering kali dituntut oleh lingkungan untuk selalu kuat, produktif, dan pantang gagal. Ketika menghadapi kegagalan, seseorang kerap terjebak dalam imposter syndrome dan menyalahkan diri sendiri seolah-olah ia tidak berharga jika tidak menjadi sempurna. Saya berpendapat bahwa salah satu pesan utama dari buku ini adalah mengajak pembaca untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan dan merawat emosi diri. Menerima diri bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan belajar untuk mengenali, merasakan, dan mengurai kerumitan emosi tanpa harus memaksakan sikap positif yang berlebihan. Pandangan ini diperkuat oleh penelitian Febriyani, Hastuti, dan Khairina (2021) mengenai welas diri (self-compassion) pada mahasiswa. Penelitian tersebut melibatkan 69 mahasiswa dan menemukan bahwa 22 mahasiswa atau 32% memiliki welas diri, sedangkan 47 mahasiswa atau 68% menunjukkan tingkat welas diri yang lebih rendah. Hasil tersebut menggambarkan bahwa menerima diri ketika berada dalam kondisi terpuruk bukanlah hal yang mudah bagi semua orang. Menurut saya temuan ini sejalan dengan pembahasan dalam buku ini, yaitu pentingnya menerapkan self-compassion dan perlakuan yang baik kepada diri sendiri saat menghadapi masa-masa sulit. Seseorang berhak untuk merasa rapuh dan berproses tanpa harus merasa bersalah atas ketidaksempurnaan yang dimilikinya.1
Menurut saya buku ini sangat relevan bagi kalangan dewasa muda dan mahasiswa yang kerap dihadapkan pada ekspektasi sosial dan tuntutan hidup yang tidak sederhana. Dalam dinamika tersebut, kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan orang lain sering kali memicu kecemasan dan perasaan tertinggal. Buku ini hadir untuk mengingatkan bahwa setiap orang memiliki perjalanan emosional yang berbeda, sehingga penting untuk mengapresiasi proses diri sendiri. Selain penerimaan diri, saya juga menilai bahwa seseorang perlu belajar memaafkan dirinya atas kegagalan atau kesalahan masa lalu. Larasati dan Widyastuti (2020), melalui penelitian berjudul Pengembangan Skala Pemaafan Diri (Self-Forgiveness), membahas pentingnya pemaafan diri sebagai konsep yang berkaitan erat dengan kesejahteraan psikologis. Penelitian tersebut mengembangkan alat ukur pemaafan diri yang mencakup dimensi mengakui tanggung jawab dan memperbarui diri. Memaafkan diri sendiri bukan berarti mengabaikan kesalahan, melainkan mengubah pengalaman disakiti atau kegagalan menjadi energi yang penuh welas asih dan daya pemulihan. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat diterapkan ketika seseorang merasa tertekan oleh target yang belum tercapai, sehingga ia tidak lagi menghukum dirinya sendiri dengan penyesalan berlarut-larut. Dengan demikian, pesan dalam buku ini membantu pembaca menyadari bahwa menghargai diri dan terus bertumbuh dapat berjalan secara berdampingan.
Dalam sudut pandang saya, kelebihan buku Kamu Tak Harus Sempurna terletak pada gaya bahasanya yang santai, suportif, dan tidak menggurui, serta dilengkapi ilustrasi visual dan lembar kerja interaktif yang sangat praktis. Penulis memposisikan diri sebagai sahabat empati yang menuntun pembaca melakukan latihan praktis seperti mindful breathing dan menulis ekspresif. Namun, menurut saya buku ini mempunyai kekurangan, yaitu pembahasannya yang ringkas membuat beberapa teori psikologi tidak diuraikan secara mendalam hingga ke ranah akademis yang kompleks. Bagi pembaca yang mencari literatur ilmiah yang mendalam, penyajian buku ini mungkin terasa kurang komprehensif. Selain itu, saya berpendapat bahwa pemulihan emosi tidak dapat diselesaikan hanya dengan membaca panduan praktis saja, melainkan adakalanya membutuhkan dukungan profesional atau lingkungan sekitar. Secara keseluruhan, buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin belajar berdamai dengan dirinya. Pelajaran paling bermakna bagi saya adalah bahwa ketidaksempurnaan bukanlah sebuah kegagalan, melainkan bagian wajar dari hakikat manusia. Pada akhirnya, menerima kekurangan dan menyayangi diri sendiri adalah bentuk cinta tertinggi dalam menjalani kehidupan.
Daftar Pustaka
- Febriyani, D., Hastuti, E. S., & Khairina, N. (2021). Gambaran self compassion: Bagaimana mahasiswa menerima dirinya ketika berada dalam keadaan yang terpuruk? In Search, 20(1). https://doi.org/10.37278/insearch.v21i1.1043
- Larasati, D. A., & Widyastuti, T. (2020). Pengembangan skala pemaafan diri (self-forgiveness). Acta Psychologia, 2(1), 80–90. https://doi.org/10.21831/ap.v1i1.34121




