BudayaOpini

Dewi Rengganis, Pepaosan, dan Sasak

Arief Rahzen, pekerja budaya

Di bawah langit Pulau Lombok, sayup-sayup terdengar lantunan tembang dari lembaran lontar kuno. Tradisi pepaosan ini menghidupkan kembali kisah epik Dewi Rengganis. Ada pihak yang mengira narasi ini hanya dongeng pengantar tidur tentang putri sakti yang membelah awan. Tetapi, bagi para pemaos di tanah Sasak, cerita ini bermakna lebih dalam. Rengganis mewujudkan manifestasi suara hati suci. Cerita Rengganis menuntun arah perilaku hidup sehari-hari masyarakat setempat. Menelusuri jejak spiritual sang Rengganis berarti menyelami nalar budaya manusia Sasak yang sangat kompleks.

Kisah ini bermula dari duka di Negeri Jamineran. Raja Jamineran harus merelakan kepergian sang permaisuri ketika sang putri tunggal mereka lahir. Kematian beriringan dengan kehidupan ini menyimbolkan derita sebagai titik awal eksistensi manusia. Sang Raja kemudian tenggelam dalam keputusasaan tak berujung. Raja lantas memilih mengembara tanpa arah pasti. Bayi kecilnya ikut menembus hutan demi pencarian kedamaian batin. Takdir menuntun langkah mereka ke Gunung Mas Argapura. Tempat sunyi ini digambarkan sebagai taman raja jin. Di puncak gunung berselimut kabut inilah, sang raja menemui titik terang spiritualitas lewat doa dan sembahyang.

Rengganis kecil tumbuh besar melalui kegaiban gaib. Ia menolak asupan nasi atau buah. Cahaya menjadi satu-satunya sumber kehidupan sang putri. Mitema magis ini menjukkan pesan kuat: kegaiban dapat mendewasakan batin manusia Sasak secara utuh. Sang putri kemudian bersahabat erat dengan Dewi Mas Komalasari, anak raja jin penguasa Argapura. Kawan gaibnya ini mengajarkan ilmu menghilang dan melayang di udara. Nalar Sasak sengaja menempatkan relasi transenden sebagai pengalaman pertama manusia sebelum berinteraksi dengan sesamanya. Kedekatan dengan dimensi ketuhanan harus terbangun sejak awal.

Keindahan puncak gunung akhirnya gagal menahan rasa ingin tahu Rengganis. Ia terbang melintasi benua menuju wilayah Negeri Mekah. Tujuannya spesifik sekaligus sarat metafora. Rengganis mencari madu dari sari pati bunga di taman asri milik Raden Repatmaja. Mekah dalam kerangka pikir ini mewakili pusat kemurnian ajaran Islam. Mekah bukan sekadar titik geografis. Perjalanan mengambil madu mencerminkan proses panjang memetik intisari agama dari sumber aslinya. Konteks sosial ini memantulkan kebiasaan masyarakat di berbagai daerah Nusantara. Sejak berabad-abad lalu, kaum muda dan pemuka agama Nusantara rela berlayar berbulan-bulan ke semenanjung Arab untuk nyantri atau menunaikan ibadah haji. Mereka begitu bersemangat menyerap ilmu tauhid, lalu menebarkannya kembali ke kampung halaman. Rengganis mempraktikkan hal serupa.

Negeri Mekah menjadi saksi pertemuan dua kutub berlawanan. Raden Repatmaja terpana oleh keharuman dari sosok tak kasatmata. Masyarakat Mekah menganggap Rengganis sebagai entitas astral semata. Kehadirannya cuma tertangkap lewat indra penciuman. Hanya Repatmaja yang mampu melihat wujud aslinya. Adegan simbolis ini membenturkan dua corak teologi. Islam Mekah tampil lebih rasional, formal, dan kasatmata. Sementara itu, Islam Sasak terasa sangat kental dengan dimensi mistis serta olah batin.

Penyatuan dua tokoh sentral ini butuh waktu panjang. Tarik-ulur terus mewarnai hubungan rumit mereka. Rengganis selalu menjauh setiap kali Repatmaja mencoba merangkulnya. Tafsir para pemaos membedah fenomena ini melalui kacamata psikologis. Repatmaja mewakili raga fisik bendawi. Rengganis memerankan batin jernih. Raga manusia pasti sakit saat terpisah dari batinnya. Repatmaja pun pingsan akibat kerinduan mendalam tersebut. Nama “Rengganis” berasal dari kata Reng bermakna suara, serta Nis berarti manis atau baik. Suara manis dari relung jiwa inilah penentu mutlak kualitas perbuatan insan. Konsep memukau ini serupa dengan hati nurani yang berlaku universal bagi seluruh peradaban.

Naskah kuno ini turut merangkum nilai sosial masyarakat secara elegan. Penyakit misterius Repatmaja memaksa Raja Jayengrana bertindak cepat mengumpulkan jajaran pemimpin dan rakyat. Mereka menggelar musyawarah mufakat untuk mencari jalan keluar terbaik. Budaya berembuk duduk bersama ini masih mendarah daging di berbagai pelosok Nusantara sebagai metode utama penyelesaian masalah komunal. Kisah tembang ini juga menyisipkan teladan tata krama luhur. Nilai-nilai kesopanan Rengganis meresap perlahan ke benak para penembang dan pendengarnya. Mereka pantang berucap kasar kepada keluarga setelah mendalami cerita agung ini. Suara hati terus menuntun lidah mereka menuju tutur kata penuh kebajikan.

Sastra lisan ini berdiri tegak sebagai jembatan kokoh antara imajinasi dan realitas. Nalar masyarakat Sasak menolak tegas memandang dunia secara hitam putih. Dimensi gaib terasa lekat menyertai kehidupan fisik sehari-hari. Sang putri sakti turut mendobrak batas dikotomi gender tradisional. Tokoh perempuan tangguh ini berani bertualang layaknya petarung maskulin. Pencarian jati diri memaksanya menembus pakem kebiasaan. Kedamaian batin selalu mensyaratkan keberanian menempuh risiko dan mengembara melintasi batas-batas teritorial.

Keberadaan naskah kuno mengemban fungsi vital sebagai pengendali tatanan sosial. Tradisi pepaosan menginternalisasi nilai moral ke relung benak pendengarnya. Makna perpisahan dalam cerita selalu diajarkan sebagai peringatan keras. Raga jasmani yang serampangan menjauh dari pikiran jernih pasti menuai penderitaan panjang. Rengganis terus bersemayam abadi dalam laku keseharian masyarakat yang mendambakan harmoni, ketenangan batin, serta kehalusan budi pekerti.

Kisah sang putri sakti ini mewujud nyata sebagai nalar peradaban yang terus berdenyut konstan. Suara hatinya memanggil seluruh umat manusia untuk pulang ke puncak gunung spiritualitas. Manusia perlu menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Memahami jalan sunyi Rengganis berarti meresapi detak jantung kebudayaan Lombok yang setia memeluk akar leluhurnya, walau sayap kearifannya telah mengepak jauh melintasi angkasa zaman.

Daftar Bacaan

Hilmiyatun, & Satrya, D. (2015). Dewi Rengganis (Kajian Antropologi Sastra Levi-Strauss). Jurnal Educatio, 10(2), 449-462.

Rozika, L. A., & La Kahija, Y. F. (Tanpa Tahun). Makna Cerita Dewi Rengganis Bagi Penembang Serat Menak di Pulau Lombok (Penelitian Kualitatif dengan Pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis).

Related Articles

Back to top button