Ramai Diperbincangkan Kasus Meninggalnya Mahasiswi UIN Tulungagung, Begini Tanggapan Mahasiswa UTS

WAHYU EKA SYAHBANDI
NIM: 251011029
Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa.
Kasus meninggalnya seorang mahasiswi UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung yang diketahui meregang nyawa ketika sedang begadang saat mengerjakan skripsi di kamar kosnya, korban diketahui memiliki riwayat penyakit jantung. Kasus ini ramai dibicarakan di berbagai media dan
forum dikarenakan peristiwa tersebut memiliki keterkaitan yang erat terhadap
perilaku mahasiswa akhir semester yang memiliki kebiasaan begadang saat mengerjakan skripsi maupun tugas. Namun, meski begitu, kejadian tersebut terjadi
bukan semata akibat begadang saja, tetapi banyak faktor lain yang menjadi
penyebab dari meninggalnya mahasiswi tersebut.
Terlepas dari desas-desus yang beredar, kasus ini
memunculkan diskusi yang lebih luas lagi pada kalangan mahasiswa. Begadang
dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa dilakukan, terutama ketika waktu pengumpulan tugas maupun revisian skripsi yang sudah sangat mepet. Namun, kebiasaan tersebut menimbulkan pertanyaan: sejauh mana seorang mahasiswa rela mengorbankan kesehatannya demi sebuah target akademik?
Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) pun
memiliki tanggapan yang beragam mengenai kejadian ini. Dimas, salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi semester akhir yang sedang menyusun skripsi, juga
merasa kejadian ini sangat miris karena relate dengan kondisinya yang sedang
mengerjakan skripsi. Tetapi, menurutnya kejadian ini disebabkan oleh berbagai
faktor.
“Untuk tanggapan dari saya tentang kasus itu
sangatlah menyedihkan. Karena yang posisinya juga sama seperti saya, sama-sama
sedang mengerjakan skripsi. Sampai ada kasus kayak seperti itu ya… sepertinya
memang ada faktor yang lain, tidak harus dari internal kampus, mungkin
eksternal juga. Yang saya alami, mungkin harus ada tempat cerita. Itu
saja,” ucap Dimas, Rabu (8/7/2026).
Ia juga menilai bahwa budaya begadang masih menjadi
hal yang sangat wajar pada kalangan mahasiswa dikarenakan tuntutan akademik
yang begitu banyak serta banyaknya kegiatan organisasi. Bahkan, ada beberapa
mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Oleh sebab itu, begadang menjadi suatu
pilihan terbaik bagi mereka yang membutuhkannya.
Selain faktor akademik, ia juga melihat adanya ambisi
dari seorang mahasiswa untuk mencapai target tertentu untuk menyelesaikan studi
tepat waktu. Meski begitu, ia juga menekankan bahwa menjaga waktu jauh lebih
penting dibandingkan hal tersebut. Mengerjakan skripsi sedikit demi sedikit
lebih baik daripada harus mengerjakannya semalam suntuk.
“Pastinya yang diutamakan adalah jam kualitas
tidur. Walaupun mengerjakan skripsi hanya sedikit, satu kalimat atau dua
kalimat, yang penting konsisten dan tetap berjalan,” jelas Dimas.
Ia juga berpesan supaya mahasiswa tingkat akhir tidak
terlalu memberatkan diri dengan ekspektasi yang terlalu tinggi. Menurutnya,
proses menyusun skripsi harus dinikmati dan tidak perlu terlalu perfeksionis.
Sementara itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi UTS bernama
Fayyadh, yang sebelumnya pernah menempuh perkuliahan di Program Studi Teknik
Sipil, juga berpendapat bahwa begadang menjadi hal yang lumrah tergantung dari
beban akademik yang ditanggung oleh seorang mahasiswa, terutama pada program
studi yang memiliki beban tugas yang lebih tinggi.
“Aku pernah di Teknik Sipil. Nah, kalau di Teknik
Sipil memang tugasnya itu banyak dan mepet-mepet untuk deadlinenya. Jadi kalau
misalnya memang intensitas penugasannya seperti itu, bisa jadi hal lumrah kalau
begadang itu bagi mahasiswa teknik,” tutur Fayyadh.
Menurutnya, deadline menjadi faktor utama yang
menyebabkan mahasiswa harus begadang dalam mengerjakan tugas maupun skripsi.
Tetapi, dia juga berpendapat bahwa budaya begadang tergantung pada karakter mahasiswa itu sendiri. Ada yang memilih untuk langsung mengerjakannya dan ada
yang memilih untuk menundanya. Akibat menunda inilah mahasiswa harus begadang
dalam mengerjakan tugasnya.
Untuk mengurangi kebiasaan itu, ia menyarankan agar
mahasiswa lebih disiplin lagi dalam mengatur waktu dan tidak menundanya.
“Jadi mahasiswa yang takut, dan cepat takut aja.
Jadi kalau misalnya kita takut, kita jadi cepat untuk mengerjakan tugas. Kalau
nunda-nunda tugas kan nanti pasti diakhir baru kelabakan,” ungkap Fayyadh.
Selain itu, ia juga menyarankan untuk mahasiswa akhir
yang sedang mengerjakan skripsi untuk selalu mengerjakannya bersama teman agar
lebih mudah dan ada tempat untuk bercerita.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh alumni UTS
Prodi Psikologi bernama Ave. Ia menyatakan bahwa ia pernah mengalami masa-masa
di mana dia harus begadang saat sedang menyusun skripsi. Tetapi, sekarang dia
sadar bahwa hal tersebut bukanlah suatu hal yang baik.
“Saat menyusun skripsi, rasanya ingin semua cepat
selesai sampai tidur sering dikorbankan. Setelah lulus, saya justru sadar bahwa
kesehatan jauh lebih berharga daripada mengejar satu malam tambahan untuk
mengerjakan skripsi,” ungkap Fayyadh.
Menurutnya, tekanan akademik tidak dapat dihindari.
Tetapi, mahasiswa juga harus mempertimbangkan kesehatan fisik maupun mentalnya.
Karena mengerjakan skripsi tidak hanya membutuhkan ketepatan waktu, tapi juga
membutuhkan konsistensi dan kondisi fisik dan mental yang baik. Ia juga
berharap kampus dapat menyediakan ruang bagi mahasiswa akhir yang mengalami
tekanan dalam menyusun skripsi.
Kasus yang terjadi di UIN Tulungagung menjadi
pengingat penting bagi mahasiswa bahwa kesehatan fisik dan mental perlu menjadi
perhatian utama dan sama besarnya dengan akademik. Para narasumber sepakat
bahwa masyarakat tidak seharusnya terburu-buru dalam menyimpulkan penyebab
kasus tersebut. Mereka juga berharap kejadian tersebut dapat menjadi refleksi
bagi mahasiswa agar lebih bijak dalam mengatur waktu dan berani untuk meminta
bantuan ketika sedang mengalami kesulitan dan hambatan selama menyusun skripsi,
serta tidak menjadikan begadang sebagai alternatif untuk menyelesaikan skripsi.



